GPIB BAHTERA HAYAT SURABAYA

Jl. Laksda M. Natsir, Tanjung Perak, Surabaya. 60165.
Dan orang akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah. (Lukas 13:29)

GPIB BAHTERA HAYAT SURABAYA

Jl. Laksda M. Natsir, Tanjung Perak, Surabaya. 60165.
Dan orang akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah. (Lukas 13:29)

GPIB BAHTERA HAYAT SURABAYA

Jl. Laksda M. Natsir, Tanjung Perak, Surabaya. 60165.
Dan orang akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah. (Lukas 13:29)

Jumat, 22 November 2019 - Renungan Pagi
HARMONI SOSIAL

"... sehingga mereka menerima pembalasan yang setimpal dengan perbuatan mereka yang jahat itu". (ay.27. LAI. BIMK)

Roma 1 : 26 - 27
MINGGU XXIII SES PENTAKOSTA
JUMAT, 22 NOVEMBER 2019
RENUNGAN PAGI
KJ.423 : 1,2-Berdoa


Masih menyambung suasana renungan pagi, yakni manusia yang cenderung "mengabaikan" Tuhan, sehingga berperilaku seenak dewa. Bukan di masa lampau saja orang ingin bebas mewujudkan berbagai keinginannya. Dalam himne Penciptaan (Kej. 1), Tuhan menciptakan sekaligus melihat-Nya, bahwa sungguh baik karya-Nya, berupa keteraturan yang paripurna. Dengan hikmat-Nya terciptalah keteraturan dengan demikian kehidupan berlangsung tertib dan baik. Keteraturan menjadi siklus yang memungkinkan setiap bagian berada dan berfungsi semestinya, yakni berperan untuk memberi hidup bagi diri dan lingkungannya. Tapi kemudian berbagai kekacauan terjadi saat manusia cenderung menempatkan dirinya sebagai tujuan serta pusat untuk semua hasratnya. Demi memenuhi nafsunya, diputusnya siklus atau rantai kehidupan. Manusia mengabaikan norma adat dalam masyarakat dan hukum positif. Nilai- nilai bijak kebudayaan dan agama yang diajarkan turun-temurun demi kelestarian ekosistem alami dan harmoni sosial diabaikan. Dengan bebasnya sumber alam dieksploitasi tanpa memperhitungkan dampaknya, tanpa malu meraup kekayaan pribadi dan masa bodoh dengan orang lain. Manusia bisa berlaku curang mendapatkan prestasi, tega menghina orang tua kandungnya, dendam antar-saudara, menodai kemurnian cinta pasangan hidup, menghancurkan keutuhan keluarga, mesum dengan sesama jenis atau mengawini saudara kandung. ltu baru sebagian daftar rusaknya harmoni kehidupan karena menganggap dunia yang bebas.

Seperti halnya Paulus mengingatkan jemaat di Roma, begitu pula kita. Bahwa kecenderungan banyak orang yang mau membangun "dunia yang bebas", sangatlah meresahkan suasana harmoni sosial yang hakikatnya tertib. Harmoni dalam persekutuan maupun dalam masyarakat. Keresahan Paulus dalam gaya hidup seenak dewa kiranya juga menjadi keresahan gereja. Baiklah kita tidak menghakimi, namun marilah terus mengingatkan ajaran Kristus, agar lepas dari bencana dengan membina tatatan untuk hidup harmoni.

KJ. 447 : 3,4
Doa : (Ya Roh Kudus, bimbinglah kami untuk berkarya dalam nama-Mu, membina hidup yang teratur) 🙏

Kembali